Seputar AXCR 2017 : Dikawal Polisi Militer Thailand Seputar AXCR 2017 : Dikawal Polisi Militer Thailand
Sekitar awal Agustus lalu, Memet Djumhana – Direktur Toyota Team Indonesia (TTI)  lewat telepon menghubungi saya. “Tunggul, kamu bisa nggak berangkat ke Thailand dan... Seputar AXCR 2017 : Dikawal Polisi Militer Thailand

banner live2

mystory1

Sekitar awal Agustus lalu, Memet Djumhana – Direktur Toyota Team Indonesia (TTI)  lewat telepon menghubungi saya. “Tunggul, kamu bisa nggak berangkat ke Thailand dan meliput Toyota New Fortuner TRD Indonesia – TTI yang ikut Asia Cross Country Rally (AXCR) 2017? Nanti kamu akan gabung sama Team Takuma-GP. Drivernya Takuma Aoki – mantan rider Motogp yang kedua kakinya sudah tak berfungsi,” kata Memet Djumhana. Wah, ini sebuah kehormatan dan kepercayaan yang tak boleh diabaikan.

mystory11

mystory16(ok)

Walaupun jujur saja, sebenarnya saya hanya memiliki sedikit informasi mengenai seperti apa event AXCR. Event yang oleh Tadayuki Sasa – founder AXCR diposisikan sebagai Reli Dakarnya negara Asia. Makanya aturan main, format lomba maupun hal-hal lainnya mirip dengan gelaran Reli Dakar. Bahkan sebagian pesertanya adalah alumni Reli Dakar. Misalnya seperti Kenjiro Shinozuka – pereli gaek asal Jepang yang pernah jadi juara reli terganas di dunia. Kategori yang dilombakan dalam AXCR pun sama dengan Reli Dakar. Selain Kelas Moto (motor trail) event AXCR juga membuka Kelas Auto (Mobil 4×4). Bahkan untuk AXCR 2017 sudah ada kelas baru yaitu Kelas Sidecar. Walaupun pesertanya hanya 1 kendaraan.

prescon1

Tadinya rekan saya Bro Nurfil Aiman yang sebenarnya akan diajak meliput event AXCR 2017 mewakili goffroad.com. Ia rencananya akan diminta melaporkan sepak terjang Tim Furukawa Battery Indonesia (FBI). Dimana untuk event AXCR 2017, tim Merah-Putih akan diwakili 2 rider di kelas Moto yaitu Kadex Ramayadi dan juga Rudy Poa. Ditambah lagi driver (Kelas Auto) undangan yaitu Lody Natasha ditemani Memen Harianto. Namun ketika  ada tawaran mendadak dan nama saya sudah didaftarkan oleh TRD Indonesia – TTI sebagai media peliput, justru Bro Nurfil malah enggak jadi diberangkatkan oleh Tim FBI. Entah apa alasannya. Ah… tapi ya sudahlah. Hehehehe…

mystory8

Mendapat kesempatan meliput AXCR 2017 sungguh pengalaman yang tak bisa terlupakan. Apalagi saya bersama Agung Lawerissa – fotografer TTI asal Solo akan berinteraksi dengan tim yang hampir semuanya berasal dari Jepang. Yujiro Nakano yang jadi komandan Tim Takuma – GP bilang, “Tim Takuma-GP terdiri dari 20 personil yang berasal dari Jepang dibantu Ittipon ‘Yong’ Isimarak (co-driver 1) beserta beberapa kru dari Thailand.” Menurut catatan saya, tim mekanik lokal thailand yang membantu  kurang lebih ada 4 orang.

mystory27(ok)

Driver Toyota New Fortuner TRD Indonesia – TTI di AXCR 2017 yaitu Takuma Aoki kebetulan pernah berjumpa dengan saya dan tim goffroad.com. Jadi bukan orang asing lagi.  Saat itu Takuma Aoki ditemani Toshio Obara – President Direktur TRD Indonesia dan Memet Djumhana – Direktur TTI datang langsung menyaksikan Kejurnas Indonesia Xtreme Off-Road Racing (IXOR) di trek Paramount Land – Serpong. Ketika berbincang-bincang santai Takuma Aoki – mantan rider GP500 (Motogp .red) bercerita jika ia masih ikut kompetisi balap mobil. Makanya ketika melihat kompetisi IXOR ia pun tertarik untuk ikut merasakan jadi salah satu peserta. Dalam hati, saya penasaran bagaimana cara Takuma menyetir mobilnya. Kan kedua kakinya lumpuh? Tapi itu semua rasa penasaran itu terjawab ketika meliput event AXCR 2017 dan bergabung dengan Tim Takuma-GP. Baca artikel http://goffroad.com/2017/08/23/axcr-2017-the-amazing-takuma-aoki-bersama-new-fortuner-trd-indonesia-tti/

me+nakano

Terus terang selama kurang lebih 16 tahun bersentuhan di dunia otomotif, saya hanya sekali saja datang di event reli yang digelar di Indonesia. Makanya meliput AXCR 2017 yang konsepnya seperti reli walaupun ada juga trek off-roadnya adalah hal yang baru. Pastia ada banyak hal yang bisa dipelajari dan jadi penambah pengetahuan. Ketika pertama kali berjumpa dengan tim Takuma-GP hampir semua personilnya ramah dan bersahabat. Oleh Yujiro Nakano saya mendapatkan penjelasan singkat apa saja yang mesti dilakukan selama event AXCR. Karena sebagai media peliput resmi maka saya dan Agung langsung melakukan registrasi begitu sampai di hotel Woraburi – Ayutthaya. Di hotel ini sekaligus dijadikan sebagai sekretariat resmi AXCR 2017.

mystory5(ok)

Agak bingung juga ketika melakukan registrasi ulang karena tak banyak penjelasan yang diperoleh kami berdua selain mendapatkan presskit berupa id card, kaos dan buku informasi. Tidak ada petugas khusus yang akan jadi pemandu untuk peliput AXCR. Padahal belakangan saya baru tahu jika meliput AXCR wartawan yang datang harus membayar. Menurut informasi yang saya diperoleh biayanya sekitar US$ 1.300 atau sekitar Rp 18 juta per orang. Informasi ini dibenarkan Fred Krijgsman – fotografer freelance dari Belanda yang juga jadi salah satu fotografer resmi event AXCR. “Kamu datang ke AXCR kan menjual berita mu ke sponsor. Jadi ya wajar dong kamu bayar. Lagi pula uang itu kan untuk membayar penginapan, kendaraan untuk transportasi selama event dan sebagainya,” kata Fred. Eh, kalau itu untuk wartawan freelance seperti Fred bisa dimaklumi karena dia biasa menjual liputannya untuk beberapa media sekaligus. Namun buat yang punya media sendiri seperti goffroad.com tentulah berbeda.

mystory12(ok)

Waduuh… pantas saja tak banyak wartawan media lokal Thailand yang datang meliput. Ternyata event AXCR benar-benar meniru semua konsep Reli Dakar. Termasuk wartawan yang datang peliput harus membayar sejumlah uang. Ini benar-benar hal yang baru buat saya. Lantaran ketika meliput berbagai event besar baik di dalam negeri maupun luar negeri sama sekali belum pernah diharuskan  untuk membayar. Menurut pandangan saya antara Event Organiser dan wartawan seharusnya memang win-win solution. Ingat lo, tanpa peranan Pers event yang digelar tak akan pernah menjadi besar. Bagaimana mau menjadi besar jika yang memberitakan event yang diselenggarakan tak banyak.  Dari sini saya mulai tahu meskipun AXCR sudah cukup lama diselenggarakan, pesertanya tak pernah bisa banyak. Karena peliputnya tak banyak maka berita yang tersiar juga tak sebanyak event otomotif yang lain. Seorang rekan wartawan Thailand yang juga merupakan kenalan lama saya bilang,” Buat apa datang ke event yang tak butuh pers? Kita masih bisa cari berita yang lain kok.” Hemm…

mystory3

mystory31

Tidak adanya press coordinator atau petugas yang khusus melayani kebutuhan pers membuat saya makin bertanya-tanya. Event sebesar ini dan harus bayar pula kalau datang meliput, kok tidak ada personil yang ditugaskan khusus untuk melayani kebutuhan para wartawan. Buat saya yang baru pertama kali datang di event AXCR tentu sedikit bikin pusing. Apalagi ketika mendapat mobil yang supirnya ternyata hanya sedikit sekali memahami bahasa Inggris. Matiihhh… dejaeee! Padahal selama 7 hari lebih saya dan Agung bakal terus bersama dengan Chaiwwat Sehaswong – itu nama driver Ford Ranger yang jadi kendaraan untuk meliput AXCR kali ini. Kesulitan komunikasi langsung kami rasakan ketika perjumpaan di hari pertama. Beruntung pada saat itu ada rekan Tumb – panggilan akrab Sehaswong yang membantu menerjemahkan komunikasi kami berdua. La, terus hari berikutnya piye (gimana .red)? Siapa yang bakal bantu menerjemahkan?

mystory4

Untuk peliputan AXCR ini, Pers yang datang meliput hanya dibekali route book yang berisi peta tulip rute reli yang akan dilewati peserta. Di dalam buku itu disebutkan beberapa lokasi yang bisa untuk mengambil gambar. Yang mana kadang informasinya kurang lengkap. Tak ada keterangan sama sekali view lokasinya seperti apa. Rute untuk wartawan peliput tentu tidak selengkap yang digunakan peserta AXCR. Rute ini tentu tidak masuk di SS yang dipakai AXCR. Persoalan muncul karena driver kami yang juga seorang Polisi Militer Angkatan Bersenjata Thailand sama sekali tidak mengerti cara baca peta tulip ala reli. Dan jujur saja kami juga tak pernah memakai peta tulip. Setiap kali melakukan perjalanan lebih banyak mengandalkan GPS ataupun Google Map. Hahahahaha…. mantep sudah kesulitan di AXCR kali ini. Dan lebih celaka lagi tidak pernah ada briefing secara khusus untuk wartawan peliput maupun press driver. Walaupun itu sebenarnya tak akan menghabiskan waktu lebih dari 5 menit. Sehingga persoalan hari ini paling tidak bisa dicarikan solusinya. Terutama yang berurusan dengan pemberitaan.

mystory18

mystory17

Ya bagaimana mau briefing? Kan personil yang bertanggungjawab khusus untuk pers tidak ada? Mau tidak mau saya harus terus aktif bertanya kepada rekan sesama peliput AXCR yang sudah berpengalaman. Namun tetap saja karena kendala komunikasi, kerap sekali apa yang kami sampaikan tak bisa diterima dengan baik oleh Tumb – press driver kami. Agak sedikit beruntung ketika hari kedua AXCR kami menemukan cara berkomunikasi melalui teknologi Google translate. Setiap kali ingin bicara sesuatu hal saya mengetik kalimat dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya pilih menu terjemahan dalam bahasa Thailand. Untungnya hasil translate nya juga bisa berupa suara. Jadi sambil menyetir Tumb bisa  mendengarkan apa yang ingin saya sampaikan. Pun demikian ketika Tumb akan menjawab ia juga harus mengetik dalam bahasa Thailand dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Memang merepotkan tapi setidaknya itu bisa sedikit membantu komunikasi kami bertiga. Tumb sendiri walaupun seorang Polisi Militer tapi pribadi yang ramah dan suka bercanda. Sehingga walaupun kadang tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan tapi kami bertiga sering tertawa-tawa. Hitung-hitung mengurangi stress. Hahahaha… Lama-lama kami bertiga pun mulai bisa memahami cara berkomunikasi dengan bahasa yang simpel.

mystory9

Inisiatif Tumb untuk bertanya kepada rekannya sesama driver mengenai dimana lokasi yang menarik untuk mengambil spot foto sebenarnya cukup membantu. Walaupun kadang informasinya tidak selalu tepat. Karena beberapa kali kami sempat kesasar dan mendatangi lokasi yang keliru. Pernah juga ketika sudah terburu-buru mencapai titik tertentu untuk memotret eh, begitu sampai di tempat kami  baru diberitahu oleh press driver lain yang sudah sampai di lokasi bahwa peserta yang lewat di sini hanya Kelas Moto. Sedangkan untuk Kelas Auto dibatalkan rute menyeberangi sungai karena arusnya deras akibat hujan semalam. Hadeuuhh… mestinya informasi ini diterima oleh seluruh press driver. Jika ada informasi dari awal tentu kami tak akan memilih lokasi ini untuk mengambil gambar.

mystory19

Berbeda dengan meliput event off-road yang punya banyak kesempatan mengambil gambar menarik, saat meliput AXCR kami hanya punya kesempatan memotret Toyota New Fortuner TRD Indonesia – TTI maksimal 5 menit. Seringkali lokasi yang kami datangi tak membuat kami bisa banyak mengambil pilihan dalam mengambil gambar karena view dan kontur treknya sama saja. Sebagai press driver yang punya kendala bahasa – Tumb kurang begitu paham dengan keinginan kami berdua ketika bekerja. Dan sepertinya Tumb juga tidak dibekali informasi yang memadai. Terutama mengenai kebutuhan wartawan untuk mendapatkan lokasi yang menarik untuk mengambil gambar. Inilah salah satu hal penyebab mengapa kami berdua stress tingkat dewa ketika bekerja.

jalan-kaki(ok)

mystory22

Selain waktu yang singkat, dalam satu hari kami paling banter hanya mampu mendatangi 2 lokasi berbeda untuk mengambil gambar. Jadi, agak susah untuk mendapatkan gambar pengganti apabila moment di lokasi terlewatkan. Untuk mengejar ke lokasi berikutnya karena tak paham mengambil rute short cut peserta AXCR maka hal itu tak mungkin dilakukan. Dan seringkali pula lokasi tempat kami berhenti jauh dari rute yang dilewati peserta AXCR 2017. Kadang kami harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 Km pulang pergi untuk mencari spot yang menarik. Udara panas di Thailand pun jadi sahabat kami setiap hari. Suhu panas di Thailand rasanya hampir dua kali lipat dengan suhu udara di Indonesia. Begitu berada di luar ruangan AC, tubuh seperti keluar uap keringat. Yah, lumayanlah jadi terasa mandi sauna tiap hari. Hehehehe…

mystory33

Hari terakhir gelaran AXCR 2017 sungguh bikin kami sport jantung. Bagaimana tidak? Rute yang dilalui peserta pendek hanya kurang lebih 80 km. Berarti kesempatan untuk memotret semakin sedikit. Dari informasi yang diperoleh ada beberapa trek yang lumayan oke untuk mengambil gambar. Karena rute yang dilewati peserta mirip trek off-road. Sebelum berangkat dari hotel saya dan Agung sempat mengingatkan Tumb mengenai lokasi yang kami inginkan. Dia bilang sudah mendapat titik koordinat gps dari rekannya sesama press driver.  Oke sedikit lega. Taapiiii… apa yang terjadi kemudian. Ternyata setelah menyetir kurang lebih 1 jam menuju koordinat GPS yang didapat dari rekan Tumb, lokasi yang dituju adalah jalan aspal di sebuah desa. Jegeeerrrrrr…! Saya dan Agung pun langsung puyeng. Mau motret apa di sini? Tumb sendiri juga kaget karena informasi yang didapat tidak sesuai keinginan kami berdua. Akhirnya ia berusaha bertanya kepada penduduk desa di tempat kami berhenti. Cukup lama kami mencari informasi. Dan celakanya di tempat kami berhenti sinyal hp hilang sehingga susah untuk menelepon atau mengoptimalkan Google Map. Saya minta Tumb untuk menggeser Ford Rangernya mencari lokasi yang sinyal hp-nya lebih baik. Ketika kami bergeser posisi tiba-tiba melintas 2 double cabin yang merupakan service car peserta AXCR. Tumb pun menyarankan untuk mengikuti mereka. Kami pun bergegas mengikuti 2 double cabin yang jadi service car peserta AXCR. Kami pun bisa sampai di lokasi finish AXCR SS terakhir sebelum peserta AXCR melintas. Memang masih ada waktu untuk orientasi mencari posisi yang pas untuk mengambil gambar. Namun lagi-lagi yang kami dapatkan lokasi yang mirip-mirip dengan SS sebelum-sebelumnya. Dimana jalanan di perkebunan tebu yang permukaannya cenderung rata. Daripada tidak mendapatkan gambar sama sekali maka kami putuskan untuk berjalan masuk ke dalam sejauh 1 km.

leg6auto5

Meskipun setelah berjalan jauh ke dalam kebun tebu, lokasi untuk memotret tetap tak banyak pilihan. Tetapi itu lebih baik daripada memotret di jalanan aspal desa yang pemandangannya biasa saja. Ketika melihat cuplikan dokumentasi yang ditayangkan panitia, saya dan Agung jadi merasa benar-benar tidak mendapatkan informasi yang mencukupi soal dimana titik pengambilan gambar yang menarik dan bervariasi. Entah sengaja atau tidak. Padahal kami baru pertama kali datang  untuk memberitakan AXCR tapi justru tak mendapat support yang baik. Padahal kalau kami mendapatkan foto-foto bagus yang untung sebenarnya juga pihak penyelenggara AXCR. Meskipun kami berdua dibiayai oleh TRD Indonesia – TTI, tapi sangat disayangkan sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit tidak diikuti kemudahan dari panitia AXCR dalam meliput. Jika dari awal kami berdua tahu kondisi di lapangan akan seperti ini maka pilihan selain membawa lensa tele (400 mm atau lebih), memakai drone juga jadi solusi untuk mendapatkan gambar yang lebih bervariasi.

mystory24(ok)

Terlepas dari semua kesulitan yang dialami selama meliput, saya bersyukur bisa bergabung dengan Tim Takuma-GP. Tim yang anggotanya ramah dan kompak. Tiada hari tanpa bercanda. Bahkan Takuma Aoki sang driver meski wajahnya kadang terlihat lelah tapi ketika saya ajak ngobrol selalu disambut antusias. Bahkan beberapa permintaan untuk foto atau mengambil rekaman video dilayani dengan senang hati. Justru terkadang saya yang harus mengerem keinginan ngobrol panjang karena melihat wajah Takuma yang kelihatan capek. Arigato gozaimasu Mr Toshio Obara – President Direktur TRD Indonesia dan  terima kasih banyak Memet Djumhana -Direktur TTI atas kepercayaan yang diberikan pada goffroad.com.  Semoga bisa bekerja sama  di event seru lainnya.

Salam #goffroad

mystory34

mystory2

mystory37

Tunggul Birawa Editor In chief