Cerita Lengkap IRE di Eropa, Mulai Ditilang Rp 2 juta Sampai Bertemu Teroris di Paris Cerita Lengkap IRE di Eropa, Mulai Ditilang Rp 2 juta Sampai Bertemu Teroris di Paris
Kami goffroad.com menerima tulisan menarik dari Bro Wijaya Kusuma mengenai perjalanan rombongan Indonesia Rider Expedition (IRE) ke Eropa pada 14 – 24 April kemarin.... Cerita Lengkap IRE di Eropa, Mulai Ditilang Rp 2 juta Sampai Bertemu Teroris di Paris

akhir9

Kami goffroad.com menerima tulisan menarik dari Bro Wijaya Kusuma mengenai perjalanan rombongan Indonesia Rider Expedition (IRE) ke Eropa pada 14 – 24 April kemarin. Berikut kami tayangkan cerita lengkap mereka yang seru, menghibur dan tentunya bisa menjadi guide jika nantinya ada juga yang berniat ekspedisi tur Eropa. Silakan dinikmati cerita panjang dan detail ini.

Team IRE mempersiapkan perjalanan ke Eropa jauh-jauh hari, dibantu oleh sahabat yang asal Italy, Andrea Milano, kami merancang route. Awalnya kita mau sewa motor dari Italy tetapi ternyata sewa motor disana mahal sekali, sehingga rencana keberangkatan menjadi diubah dari awalnya Italia Milan, menjadi Amsterdam.  Kebetulan saya mempunyai kawan orang Belanda yang bersedia menjadi road captain yakni Coen Hoogendijk rider dari Belanda.

Mulailah kita mempersiapkan visa, tiket dan segala sesuatu persiapan untuk keberangkatan. Kita pelajari perjalanan disana, route, lalulintas, suhu dan tentunya komunikasi.  Komunikasi menjadi penting karena sekali kita hilang di negeri orang, maka cari jalannya balik menjadi susah hehehe.

Peserta yang ikut adalah Arif Suryono, Wawan, Wijaya Kusuma, Basri Kamba dan Istri, Heri Cahyono, Mufti, Andrea Milano, Heri Luthfi Thaeb, Badawi, Fauzan Susanto, Bambang Sukarsono, Dedi Mulyadi, Fauzan Susanto . Sebagian besar justru penggemar olah raga speed offroad. Namun kami punya keinginan sama, menjelajah penjuru dunia mengendara motor.  Setelah tahun lalu kami ke Himalaya melalui Jalur Annapurna, maka tahun ini kami mencoba keliling Eropa Barat.

akhir4

Kami berangkat pada tanggal 14 April 2017 (Jumat) dengan menggunakan Emirate Airlines EK 369 dengan tujuan Dubai pada pukul 07.25 pagi kemudian nyambung menuju Belanda dengan penerbangan nomor EK 149. Tiba di Belanda pukul 20.00 malam. Esok harinya kami keliling kota Amsterdam, sore hari kami ketempat penyewaan motor yang terletak di Amsterdam-Duivendrecht.

Kami melakukan penyesuaian motor dan melunasi biaya sewa motor. Sebagian besar teman teman membeli perlengkapan riding gear. Sementara bang AIk (Heri Luftfi Thaeb), Badawi dan Mas Bambang Karsono mengambil mobil Mercedes Sprinter Van.  Motor yang kami gunakan pun bervariasi, ada BMW GS 1200, Afrika Twin, Honda VFR1200X, Super Tenere, Crossrunner dan Brugman.

Minggu 16 April 2017, dini hari kami bergerak menuju Luxembourg, kami melalui Maastricht, Belanda kota tua yang sangat apik dan menarik. Jarak tempuh Maastricht, Belanda adalah 217 Km perjalanan melalui jalanan Highway membuat kami harus selalu waspada, disamping hujan yang menimpa kami juga suhu dingin membuat kami kedinginan.  Angin samping yang kencang selama perjalanan membuat kami selalu waspada karena motor bergoyang kena terpaan angin samping.

akhir7

Kecepatan rata-rata adalah 130 KM/jam dan kami sudah tiba di Maastricht jam 11 siang. Setelah makan siang disitu kami berfoto ria di Cathedral Basilica of Saint Servatius  gereja tua yang dibangun tahun 1180. Perjalanan dilanjutkan menuju Luxembourg melalui jalanan yang indah dan berliku. Kami menginap diatas bukit di hotel Campanile Luxembourg. Sampai disini motor yang saya kendarai sempat overheating dan lampu tanda radiator bernyala kembali, saya sudah mulai khawatir tapi kalau dijalanan lurus motor normal kembali. Surprise, disini kami ketemu dengan Sahabat lama bule Jawa yang lama tinggal di Bali, Andrea Milano. Dia rupanya sudah naik motor dari Milan ke Luxembourg sendirian.  Senang rasanya ketemu sahabat lama di Luxembourg, kita akhirnya ngobrol panjang hingga malam hari.

Perjalanan berikutnya Senen 17 April 2017, Cuaca masih tetap dingin bahkan suhu terkadang minus 4, diiringi hujan rintik kami menuju Zurich Swiss, kali ini kami melewati jalan pedesaan (Country Side) dan  jarak yang kami tempuh pada hari itu adalah 446 KM. Colmar adalah desa kecil yang masuk ke Negara Perancis dan pada hari ini kami melewati 4 negara sekaligus yakni Luxembourg, Jerman, Perancis dan Swiss.  Pemandangan sangat bagus dan Indah sekali bunga tulip juga berkembang dimana-mana membuat perjalanan kami tidak terasa membosankan. Namun jalanan sangat licin dan kecil di pegunungan Parc naturel régional des Ballons dimana di kiri dan kanan kami jurang sehingga memaksa kami extra hati hati. Sesampainya di Mulhouse (desa kecil sebelum Zurich) kami menyaksikan tabrakan 2 kendaraan yang adu kambing dan polisi serta ambulan sudah ada disitu, kami menduga ada korban tewas akibat kecelakaan tersebut. Jalanan licin membuat mobil dari arah depan sliding dan menabrak frontal kendaraan yang dari arah kami. Cukup mencekam, jalanan sepi tetapi bisa terjadi kecelakaan yang luar biasa.

akhir8

Perjalanan kali ini cukup jauh dan melelahkan namun terbayarkan dengan pemandangan yang sangat indah, siang harinya kami mendekati Zurich dan menyaksikan bagaimana indahnya kota Zurich Swiss. Namun udara dingin membuat kami langsung ke hotel Kronenhof yang terletak di Wehntalerstrasse 55111 Zürich Nord.  Hotel kecil yang sederhana dan terletak di utara Zurich.

Disini kami menyaksikan pemandangan indah dimana bis disini hampir semuanya menggunakan tenaga listrik. Semua serba teratur dan yang jelas kami tidak menjumpai jalanan macet. Setelah esoknya sarapan pagi, segera kami keliling kota Zurich dan berfoto bersama.  Kami berfoto di Limmat River yang menjadi Icon Kota Zurich. Jam 11.00 siang kami keluar kota Zurich menuju Milan Italia.

Kali ini karena ada andrea yang asli Italy,  maka dia yang memandu jalan.  Kami keluar kota Zurich menuju pergunungan Alpen, kami melewati kota Andermatt, di sini kami merasakan terpaan hujan salju sepanjang jalan. Kami menuju kota Lucerne dalam perjalanan kami ke Milan. Karena hujan salju, maka jalan pedesaan melewati pegunungan Alpen (Gotthard Strasse) ditutup, alternatifnya kami memasuki terowongan Gotthard Pass.  Sekitar 5 km sebelum memasuki Gotthard pass jalanan macet sekali, rupanya antrean itu menuju ke dalam perut bumi tunnel de base du Saint-Gothard yang panjangnya 57 km. Karena antrean panjang, Andrea berinisiatif mengambil jalur paling kanan secara perlahan lahan, ternyata sebelum masuk terowongan ada polisi wanita Swiss yang menghentikan kami, akhirnya kami ditilang dan setiap motor kena 140 Euro (2 juta rupiah).  Sempat ada perdebatan kecil antara Andrea dan polisinya, karena kalau di Itali dalam suhu dingin seperti ini motor diperbolehkan nyalip dari jalur paling kanan saat kendaraan macet, karena kalau motor tidak ada pemanas sedangkan yang naik mobil walau macet tidak masalah karena ada pemanas suhu ruangan kabin mobil.

akhir1

Akhirnya setelah berdebat polisi hanya mengenakan denda kepada motor yang didepan saja. Sebelum sampai di Milan, kami mampir di danau Como, dan makan steak disitu. Danau Como adalah danau yang sangat indah dan terletak di ketinggian.

Sekitar jam 19.00 malam kami tiba di Milan dan kami mulai dengan mengunjungi Ill Duomo, gereja tua yang terletak di kota Milan ini mampu menampung jemaat sebanyak 40.000 orang. Gereja ini dibangun pada pada abad ke-14 jaman Napoleon. Atapnya atasnya terdiri dari 135 batu halus berukir dengan eksterior yang dihiasi dengan 2.245 patung-patung marmer.  Sungguh sangat indah bangunan ini di sore hari. Setelah itu kami melewati   Gallerie Vitorioe Emmanuelle mall yang megah terletak di kota Milan.  Terakhir kami berkunjung ke San Siro Stadion dimana disitu dilahirkan pemain bola unggulan Itali yakni Club AC Milan.  Setelah puas berkeliling, terakhir kami makan malam di Rumah Andrea Milano, Sahabat kami yang berasal dari kota Milan. Dia memasak masakan sendiri untuk dihidangkan kepada kami.  Setelah makan malam, kantuk mendera apalagi suhu udara malam sangat dingin,  antara 3-10 derajat Celsius. Kami segera kembali ke hotel untuk rehat malam.

akhir6

Esoknya perjalanan menuju ke Macon Perancis Selatan, setelah bangun pagi kami segera berkemas dan bergegas berangkat, pagi ini kami bersiap lebih awal karena jarak tempuh hari ini cukup panjang yakni 472 Km melalui Jenewa. Motor saya start dan ternyata tidak bisa, lampu indikator semua mati.  Check semua sekring tidak ada yang putus dan semua berfungsi, akhirnya kita coba ganti aki ternyata hidup. Wah aki keringnya ternyata habis di motor saya. Terpaksa motor setiap mau start di jumper, bongkar motor ini mengakibatkan waktu keberangkatan molor 2 jam dari prediksi semula. Jam 11 baru kami keluar dari kota Milan. Bergegas kami ke arah Torino dan belok kanan menuju Chamonix Mount Blanc pegunungan salju terkenal di selatan Perancis dan merupakan tempat olah raga ski. Kami istirahat disitu dan berfoto menikmati indahnya alam Mount Blanc.  Kecepatan rata rata di Mount Blanc sekitar 130 kpj jalan berliku-liku dan banyak cabang mengakibatkan salah satu rekan kita tercecer dibelakang.  Setelah menunggu sekitar 1 ½ jam baru Wawan terlihat kembali di gerbang tol.  Suhu udara sekitar 1 derajat membuat kami kedinginan. Saat akan menghentikan motor,  Basrie Kamba sempat terjatuh di jalanan yang miring, akibatnya Windya Larasati, istri beliau juga ikut jatuh. Beruntung tidak cidera parah, namun windshield depan motor yang digunaan pecah kacanya. Mufti berusaha membantu, dan saat turun dari motor, Afrika Twin yang dipakainya pun ikut terjatuh dan bodi samping kanan pecah. Namun keduanya tidak mengalami cidera.

Setelah berfoto bersama, kita bergerak lagi meninggalkan Mount Blanc menuju arah Macon Perancis.  Di daerah Magland kami berhenti untuk makan siang, sekaligus refuelling motor. Cuaca saat itu cerah dan matahari nampak menyinari, walaupun demikian suhu udara sangat dingin sekali.  Kami bergerak lagi pada pukul 15.00 siang dan kami harus mengejar waktu untuk tiba di Macon sebelum gelap. Baru sekitar 1 km, motor yang dikendarai tiba tiba lost power dan ternyata overheating. Beruntung kami masih jalan beriringan dengan kendaraan back up, yakni mobil Mercedes Spinter Van dengan 7 penumpang dan cargo. Segera mobil back up menepi dan kami tidak mau resiko lagi memperbaiki motor, dan segera motor yang rusak dinaikkan kedalam Van. Sementara rekan rekan 7 motor lainnya sudah berada jauh di depan, kami yang berada di Van segera kontak rekan yang di motor agar menunggu kami di depan.

eropa3

Sekitar 30 menit kemudian kami akhirnya bergabung lagi dengan rekan motor lainnya. Perjalanan di lanjutkan ke Macon, Perancis. Desa kecil yang terletak diselatan perancis ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Tapi kembali lagi udara di sini sama dengan saat kami di mount blanc yakni 1 derajat. Tidak banyak yang bisa kami perbuat disini. Selain tidak ada obyek turis, Macon hanyalah kota persinggahan atau tempat rehat para petualang yang sedang melintas.

Pagi dini hari kami bergegas menuju Paris, ini adalah hari ke 5 kami berpetualang dengan sepeda motor. Kamis, 19 April 2017, kami menuju Paris, jalanan yang mulus dan menarik membuat kami terlena untuk mencoba gas motor lebih dalam lagi. Sore hari jam 15.00 kami sudah tiba di Paris,  ternyata Paris tidak seindah seperti yang saya bayangkan. Sekitar 20 km sebelum memasuki paris, jalanan merayap dan macet, kami butuh waktu sekitar 2 jam merayap untuk memasuki pusat kota. Kami menginap di Hotel Glasgow Monceau yang terletak di 65 Rue de Tocqueville, tidak jauh dari Champ Elysees.  Saat kami tiba polisi mondar mandir dan banyak sekali polisi berseragam dengan senjata lengkap di pinggir jalan. Ternyata di Champ Elysees terjadi penembakan polisi oleh teroris. Dikabarkan 1 polisi tewas dan 1 lagi terluka, sedangkan teroris yang menembak berhasil dilumpuhkan sedangkan satu orang lagi melarikan diri. Dampaknya sangat terasa, kendaraan VAN kami pun tidak luput dari pemeriksaan. Para pendatang diperiksa di perbatasan negara, semua truk yang lewat pun digeledah.  Kami habiskan waktu di Paris selama dua hari, waktu yang panjang. Eiffel Tower adalah tujuan utama kami.  Sayang motor kami tidak bisa di foto dan parkir disini karena kondisi keamanan yang tidak memadai.

akhir3

Selama di Paris kami keliling-keliling dengan menggunakan bis Hop on Hop Off karena kalau naik motor selain macet juga tidak bisa parkir sembarangan. Tujuan utama kami apa lagi kalau bukan Menara Eiffel, kami berfoto bersama di 2 sisi Eiffel yang berbeda, setelah itu teman teman berfoto di latar belakang Arc de triomphe de l’Étoile atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe adalah monumen berbentuk Pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri di tengah area Place de l’Étoile, yang terletak di ujung barat wilayah Champs-Élysées. Tak lupa rekan rekan menyempatkan belanja di Laffayete tempat belanja terbesar di Paris. Tapi saat di Laffayete ternyata yang ngantri panjang banget dan justru yang tukang belanja adalah orang Indonesia, percakapan bahasa Indonesia terdengar dimana mana. Weleh weleh. Setelah itu kami berputar ke Notre Damme, Gereja tua yang antik. Notre Dame de Paris, biasanya disebut sebagai Notre Dame, adalah katedral berasitektur gothic di sebelah timur Île de la Cité di Paris, Perancis, dengan pintu masuk utama di barat. Notre Dame ini terletak di pinggiran sungai Rhein.

Penat selama 5 hari perjalanan terbayarkan dengan singgah di Paris selama 2 hari, setelah puas berbelanja dan berputar Paris. Kami beristirahat untuk persiapan riding hari terakhir sepanjang 615 km. Ini perjalanan yang paling panjang dan menjemukan dan kami pun harus tiba di Amsterdam jam 18.00 paling lambat.  Kami memutuskan harus keluar kota Paris pukul 06.00 pagi karena menghindari kemacetan orang berangkat kerja.

Setelah pagi-pagi bangun, kami jam 6.30 sudah menuju ke arah Belgia, kira-kira satu jam kemudian setelah keluar Paris kami sarapan dulu. Kali ini kami tidak banyak berhenti, selain itu kami dapat informasi bahwa jalan ke Bruxelles ditutup, yang artinya kami harus memutar sedikit kearah Eidhoven. Jarak tempuh kami bertambah 50 Km atau lebih panjang dari awal yang kami rencanakan (565 km). Kecepatan kami pun konstan di 130-140 kpj agar bisa tepat waktu tiba di Amsterdam. Kami tiba di perbatasan Belanda pada pukul 15.00 sore beruntung kami masih bisa menyempatkan diri mengunjungi Kinderdijk, desa kincir angin yang menjadi Icon negeri Belanda.  Kami menyempatkan makan sore disini sebelum kami kembali ke Amsterdam.

akhir2

Jam 17.00 tepat kami tiba di tempat penyewaan motor dan sudah disambut oleh Jacob Schootan dan Lust teman kami di Belanda. Setelah mengembalikan motor, kami menuju hotel dan malamnya kami melakukan perpisahan dengan Coen rekan kami yang menjadi road captain. Suasana kekeluargaan dan perpisahan dilakukan di Restoran Indonesia “Bejo”di Lange Leidsedwarstratt di Amsterdam Central.  Suatu perjalanan yang mengesankan walaupun ada insiden insiden kecil tetapi semua selamat dan perjalanan berjalan lancar. Esoknya kami kembali ke Indonesia dengan membawa kenangan Indah selama 10 hari di Eropa yang tentu terbayarkan dengan kepenatan yang kami rasakan.

Selama perjalanan pulang teman teman sudah sibuk dengan rencana tahun depan. Kemana kah IRE tahun depan berpetualang ? Ya mereka sepakat untuk menjelajah Eropa Timur ke negara bekas jajahan Uni Soviet mulai dari Jerman (Frankfurt hingga Moscow) dengan total jarak 5338 km,  doakan saja semoga harapan ini bisa terkabulkan.

ire4

nurfil aiman Managing Editor